Pernah Kepikiran Nggak? Kata yang Sering Kamu Pakai Ini Ternyata BUKAN Asli Indonesia, Yuk Cari Tahu Faktanya!

Bukan kehidupan itu sendiri, melainkan kehidupan yang baik, yang harus dihargai terutama.

“Bukan hidup, tapi hidup yang baik, harus dihargai”

(Socrates)

Pernah nggak sih kamu kepikiran, kata-kata yang kita pakai setiap hari itu sebenarnya dari mana asalnya? Soalnya, banyak banget pemahaman Bahasa Indonesia yang terdengar “lokal banget”, tapi ternyata punya sejarah panjang dari bahasa asing. Salah satunya adalah kata jendela .

Kata ini sering kita pakai tanpa mikir dua kali, mulai dari rumah, sekolah, sampai kantor. Tapi siapa sangka, di balik kata sederhana ini, ada cerita sejarah lintas budaya yang cukup mencengangkan. Yuk, kita bongkar bareng-bareng fakta menarik di balik kata jendela ini.

Asal Usul dan Sejarah “Jendela”

Asal muasal jendela; sumber oleh Pixabay

Kalau ditarik ke belakang, asal kata jendela ternyata bukan berasal dari bahasa daerah Nusantara. Kata ini masuk ke Indonesia melalui proses panjang interaksi bangsa Indonesia dengan bangsa asing, khususnya pada masa kolonial. Ini bukti nyata kalau bahasa berkembang seiring sejarah dan pertemuan budaya.

Fun fact-nya, sebelum mengenal asal kata “jendela” , masyarakat Nusantara sebenarnya sudah punya istilah sendiri. Beberapa di antaranya adalah “ tingkap” dalam Bahasa Melayu dan “ lawang angin” di sejumlah dialek daerah. Istilah-istilah ini digunakan untuk menyebut pencahayaan rumah yang berfungsi sebagai tempat keluarnya udara dan cahaya.

Namun, seiring berjalannya waktu, kata “jendela” justru menjadi lebih umum digunakan. Pengaruh kolonialisme, sistem pendidikan modern, dan administrasi pemerintahan membuat kosakata serapan seperti ini semakin dominan. Akhirnya istilah lokal perlahan tergeser dan kata jendela menjadi standar dalam Bahasa Indonesia sampai sekarang.

Secara etimologis, kata jendela diyakini berasal dari bahasa Portugis, yaitu janela . Bangsa Portugis sendiri sudah datang ke Nusantara sejak abad ke-16, membawa bukan hanya rempah-rempah, tapi juga bahasa, budaya, dan istilah-istilah baru. Dari banyak kosakata asing mulai diserap ke dalam Bahasa Indonesia.

Menariknya, proses penyerapan ini tidak terjadi secara instan. Kata janela mengalami penyesuaian bunyi agar lebih mudah diucapkan oleh masyarakat lokal. Akhirnya, lahirlah kata jendela yang kita kenal dan gunakan sampai sekarang.

Fenomena ini bukan hal aneh dalam linguistik. Bahasa Indonesia memang dikenal sebagai bahasa yang terbuka dan adaptif. Selama kata-kata tersebut relevan dan dibutuhkan, maka besar kemungkinannya akan diserap dan disesuaikan.

Arti Jendela dalam KBBI dan dalam Bahasa Portugis

Rumah Warna Warni; sumber oleh Pixabay

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) , asal kata jendela memiliki arti sebagai lubang atau bukaan pada dinding rumah, bangunan, atau kendaraan yang berfungsi sebagai tempat masuknya cahaya dan udara. Biasanya, jendela dapat dibuka dan ditutup, serta dilengkapi kaca atau kisi-kisi. Definisi ini menunjukkan fungsi jendela yang sangat vital dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, dalam bahasa Portugis , kata janela memiliki makna yang hampir sama. Janela berarti jendela atau bukaan pada bangunan yang memungkinkan cahaya dan udara masuk. Dari sini bisa kita lihat bahwa makna kata tersebut tidak banyak berubah meskipun telah mengubah bahasa dan budaya.

Kesamaan makna ini menandakan bahwa proses serapan kata jendela tergolong berhasil. Kata-kata tersebut tidak hanya diadopsi secara bunyi, tetapi juga mempertahankan fungsi dan konsep aslinya. Inilah salah satu ciri kuat dari penyerapan bahasa yang efektif.

Menariknya lagi, kata janela sendiri punya akar dari bahasa Latin ianua yang berarti pintu atau gerbang. Jadi bisa dibilang, satu kata sederhana ini menyimpan sejarah lintas dan lintas benua.

Kenapa Banyak Kata Bahasa Indonesia Berasal dari Bahasa Asing?

Bahasa Indonesia terbentuk dari sejarah panjang interaksi sosial, perdagangan, dan penjajahan. Indonesia pernah berhubungan dengan bangsa Arab, Sansekerta, Belanda, Portugis, hingga Inggris. Semua interaksi ini meninggalkan jejak dalam bentuk pemahaman.

Alih-alih dianggap sebagai kelemahan, serapan bahasa justru menjadi kekayaan. Bahasa Indonesia menjadi fleksibel, dinamis, dan relevan dengan perkembangan zaman. Selama kata-kata tersebut dipahami dan digunakan secara luas, maka ia sah menjadi bagian dari bahasa nasional.

Selain itu, serapan kata juga memudahkan komunikasi global. Banyak istilah asing yang memang sulit dicari padanan lokalnya. Maka dari itu, penyerapan menjadi solusi paling masuk akal.

3 Contoh Kata Bahasa Indonesia dari Bahasa Asing

3 kata Indonesia dari Bahasa Asing; sumber oleh Pixabay

Sebenarnya, kata jendela bukan satu-satunya contoh pemahaman Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa asing. Ada banyak kata lain yang kita gunakan setiap hari tanpa sadar kalau kata tersebut punya latar belakang lintas budaya. Hal ini terjadi karena Bahasa Indonesia memang terbentuk dari interaksi panjang dengan berbagai bangsa.

Lewat proses penyerapan bahasa, kata-kata asing ini kemudian disesuaikan dengan lidah dan kebiasaan masyarakat Indonesia. Hasilnya, kata tersebut terasa “lokal” meskipun asalnya dari luar. Nah, berikut ini beberapa contoh kata Bahasa Indonesia yang ternyata juga berasal dari bahasa asing.

Pertama, kata “kursi”

Kata ini berasal dari bahasa Arab kursiyy yang berarti tempat duduk atau singgasana. Pengaruhnya masuk ke Nusantara lewat perdagangan dan penyebaran Islam, lalu diserap karena sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, kata “kantor”

Istilah ini berasal dari bahasa Belanda kantoor yang mulai dikenal sejak masa kolonial. Hingga saat ini, maknanya tetap sama dan digunakan secara luas untuk menyebut tempat kerja atau pusat administrasi.

Ketiga, kata “sabun”

Kata sabun diambil dari bahasa Arab ṣābūn yang Merujuk pada alat pembersih. Seiring berkembangnya budaya kebersihan, kata ini akhirnya menyatu dan menjadi bagian penting dari pemahaman Bahasa Indonesia.

Kesimpulan

Dari kata jendela, kita jadi sadar kalau Bahasa Indonesia itu hasil percampuran banyak budaya dan bahasa asing. Fakta ini nunjukkin kalau bahasa kita bukan hanya alat komunikasi, tapi juga Saksi sejarah perjalanan bangsa. Semakin kita memahami asal-usul kata, semakin bijak juga kita dalam menggunakan bahasa sehari-hari.

Kalau kamu butuh terjemahan yang bukan asal terjemahan , paham konteks budaya, dan tetap alami membaca, Brainy Translation siap bantu. Mulai dari dokumen resmi, akademik, hingga konten profesional, semuanya dikerjakan oleh penerjemah berpengalaman. Yuk, percayakan kebutuhan terjemahan kamu ke Brainy Translation biar hasilnya akurat, rapi, dan terpercaya!

WhatsApp Order, Hub Kami 081359358604 (24 Hour)