085-755-113-148 brainytranslation@gmail.com

Dilansir dari Wikipedia, bahasa adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya menggunakan tanda, misalnya kata dan gerakan. Semua  bahasa bergantung pada proses semiosis untuk mengubungkan isyarat dengan makna tertentu. Bahasa lisan dan bahasa isyarat memiliki sebuah sistem fonologis yang mengatur bagaimana simbol digunakan untuk membentuk urutan yang dikenal sebagai kata atau morfem, dan suatu system sintaks yang mengatur bagaimana kata-kata dan morfem digabungkan untuk membentuk frasa dan penyebutan. Sederhananya, bahasa adalah cara manusia untuk saling berkomunikasi.

Bukan hanya bahasa lisan yang berbeda di antara berbagai negara, bahasa isyarat atau simbol gerakan juga memiliki makna yang berbeda di belahan yang berbeda. Sedikit banyak dibahas disini.

Bahasa menjadi salah satu faktor yang menempatkan penyandang disabilitas secara eksklusif. Mereka memiliki cara tangkap dan gaya komunikasi yang berbeda dengan bahasa lisan. Perbedaan mendasarnya terletak pada modalitas dan persepsinya. Bahasa lisan diproduksi melalui alat ucap (oral) dan dipersepsi melalui alat pendengaran (auditoris), sementara bahasa isyarat diproduksi melalui gerakan tangan (gestur) dan dipersepsi melalui alat penglihatan (visual).

Pertama kali, penggunaan bahasa isyarat menurut penulusuran sudah ada sejak era Plato 360 SM. Keyakinan terhadap bahasa isyarat sebagai bahasa manusia yang alami pun dinyatakan oleh René Descartes pada abad ke-18. Dan kemudian studi atau penelitian linguistik terhadap bahasa isyarat terus berkembang hingga saat ini. Studi akan hal terkait mulai memasuki kawasan Asia sekitar tahun 1900-an

 Di Indonesia sendiri, penelitian linguistik bahasa isyarat baru dimulai tahun 2000-an dan hingga saat ini terdapat dua jenis bahasa isyarat yang dikenal yaitu Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) dan Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI). Namun, Bisindo lebih banyak digunakan karena kedekatannya dalam bahasa ibu (bahasa Indonesia). Baru pada tahun 2015, Universitas Surabaya merilis kamus bahasa terkait disabilitas. Kamus ini berisikan kamus isyarat dan simbol yang ditujukan untuk memudahkan komunikasi para penyandang disabilitas dengan masyarakat umum. Perkembangan dalam bahasa isyarat menunjukkan bahwa bahasa itu dinamis dan akan mengikuti perkembangan penggunanya yang dalam hal ini adalah kita (manusia) sebagai pengguna bahasa bagaimanapun situasinya.

Tak ada perbedaan bahasa isyarat dan bahasa lisan jika ditinjau dari bagaimana bahasa diperuntukkan untuk berkomunikasi dan bahasa menyiratkan makna tertentu. Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi ini digunakan secara bersama untuk tujuan yang sama.

Dalam menyambut Hari Disabilitas Internasional (3 Desember) ini, mari bersama menyadari bahwa semua dari kita adalah sama dan jikapun ada perbedaan, itu adalah hal yang normal.

Baca artikel menarik lainnya disini.

Salam baca, Brainy!