085-755-113-148 brainytranslation@gmail.com

Sebelum membahas luas tentang bagaimana dan apa itu sastra dunia, seberapa jauh Anda memahami makna “karya sastra” itu sendiri? Sepertinya Anda perlu meluangkan waktu untuk merenungkan lebih jauh akan hal itu.

Kritikus sastra H.B Jassin pernah mengatakan bahwa sastra Indonesia adalah warga sastra dunia. Di era globalisasi saat ini, pernyataan itu ada benarnya. Tidak dapat dipungkiri, masyarakat dengan mudah membaca karya sastra dari para pengarang hebat dunia, tanpa atau dengan pengalihan bahasa yang dilakukan penerjemah. Karya yang hebat menemukan penikmatnya dengan caranya sendiri, meskipun lebih banyak karya sastra berbahasa Inggris. Disinilah keistimewaan sebuah karya sastra. Karya tersebut selain bercerita, dia juga membawa pesan dan dikemas begitu indah dengan kekayaan bahasa yang dimiliki pengarang. Setiap penulis membawa citra rasa yang berbeda, dan setiap pembaca memiliki hak tafsir atas karya yang mereka baca. Dalam proses menafsirkan itulah terjadi komunikasi langsung antar karya sastra dengan pembaca, atau komunikasi tak langsung antara sastrawan dan pembaca. Dua komunikasi ini yang membangun citra rasa karya sastra.

Lantas, apa yang sejatinya disebut dengan sastra dunia? Apa tolok ukur dan klasifikasi yang tepat untuk menggolongkan sebuah karya menjadi sastra dunia?

Kita persempit cakupannya lebih dulu; apa yang Anda kenal tentang sastra dunia? Mungkin beberapa akan menyebutkan nama-nama, seperti Haruki Murakami, Roberto Bolano, atau sejumlah penulis yang memenangkan penghargaan Nobel atau Man Booker misalnya. Namun, bukankah itu nama-nama yang didesak pasar buku dunia kepada masyarakat luas, karya yang sedang hits di toko-toko buku di hampir seluruh belahan dunia, dan sebagian besar dari karya itu berbahasa Inggris tentunya. Tapi bagaimana dengan karya sastra dari Lithuania, Pantai Gading, Laos, Ecuador, atau Vanuatu? Karya-karya yang biarpun dianggap penting dalam bahasa nasional masing-masing, tapi tidak tersedia dalam versi Inggrisnya.

Dilansir dari Wikipedia; sastra dunia kadang-kadang digunakan untuk merujuk pada jumlah literatur nasional yang ada di seluruh dunia, tetapi biasanya mengacu pada sirkulasi karya yang lebih luas di luar negara asal mereka. Atau definisi lain yang mengartikan sastra dunia ke tiga definisi umum:

  • Hasil sastra yang dianggap paling tinggi mutunya oleh kebanyakan bangsa di dunia
  • Sastra yang dapat dipahami dan dinikmati oleh berbagai bangsa di dunia
  • Bertema universal

Pada kebanyakan kasus, sastra yang menggunakan kebudayaan inti, seperti Inggris atau Prancislah yang akan mendominasi karya sastra pinggiran yang tidak dilatar belakangi oleh kebudayaan mayoritas di dunia. Dengan cara ini nampaknya dapat kita klasifikasikan lebih sempit apa itu “sastra dunia” (dalam tanda kutip) dalam beberapa golongan berdasarkan seberapa jauh bahasa-bahasa pembawanya tersebar ke seluruh belahan bumi.

Golongan pertama akan dikuasai oleh karya sastra yang ditulis dalam bahasa kaum penjajah, seperti bahasa Prancis, Spanyol, Portugis, dan terutama Inggris. Golongan kedua akan ditempati oleh karya sastra yang ditulis dalam bahasa yang terpelihara dari masa klasik ke modern, seperti bahasa Arab, Turki, Mandarin, dan Jerman. Sementara golongan ketiga untuk karya sastra yang dituliskan dalam bahasa Eropa “pinggiran” seperti bahasa Rusia, Finlandia, Swedia.

Selanjutnya, golongan keempat adalah karya sastra yang menggunakan bahasa setempat yang terbaca luas di negeri bersangkutan dan tertutup oleh pengaruh dunia luar seperti sastra Hindi, Urdu, misalnya. Golongan kelima adalah sastra nasional yang dijajakan oleh bangsa bersangkutan ke seluruh dunia sebagai bagian dari perkembangan sector ekonomi dan budaya yang baru, seperti sastra Korea. Dan terakhir golongan keenam. Golongan ini dikelompokkan untuk karya sastra yang ditulis dalam bahasa nasional yang tidak dikenal dunia dan tidak ada langkah diplomatis untuk mengenalkan sastra dan seni di kancah Internasional, sastra Indonesia dimungkinkan berada dalam golongan ini.

Penggolongan ini mengisyaratkan betapa banyaknya karya sastra yang dihasilkan oleh jutaan sastrawan dunia. Inilah lautan karya sastra yang tidak akan habis dijelajahi bahkan oleh pakarnya sekalipun.

Sastra dunia bagaikan rumah jagal sastra yang melahirkan jutaan karya dan membunuh lebih banyak karya lainnya. Karya-karya yang lenyap, mati dalam gelombang sejarah lebih banyak dibanding karya-karya yang masih dibaca. Dan apakah ini sebuah kemunduran? Anda perlu merenungkan jawabannya.

Kuatnya sastra dunia memang masih menyelipkan definisi semu apa itu sejatinya sebuah sastra dunia, sastra yang mendunia ataukah sastra yang merubah dunia?

Baca artikel menarik lainnya disini.

Salam baca Brainy!