085-755-113-148 brainytranslation@gmail.com

Pernahkah Anda menyaksikan film Dr. Dollite, King Kong, Garfield ataupun film sejenisnya? Film-film itu menceritakan bagaimana manusia dapat berkomunikasi dengan hewan melalui bahasa atau hewan yang dapat bicara bahasa manusia? Film memang sebuah karya terbaik dalam perwujudan imajinasi manusia, tapi benarkah komunikasi itu benar-benar dapat terjadi? Coba perhatikan perbedaan berikut.

Komunikasi : proses menyampaikan informasi

Bahasa : sebuah sistem gramatikal, ujaran, dan tulisan

Bicara : bentuk ujaran dari bahasa

Berkomunikasi dengan manusia maupun hewan dapat menggunakan cara apapun selain berbahasa, seperti lewat ekspresi, tanda, atau gerakan tubuh. Kita dapat memahami maksud-maksud tertentu dari yang disampaikan orang lain. Namun bahasa yang kita gunakan sehari-hari memiliki aturan tata bahasa yang dapat disimpan di dalam ingatan kita. Kumpulan huruf menjadi kata, kumpulan kata menjadi kalimat, kalimat yang dapat dimengerti hingga yang paling rumit untuk dipahami. Pelafalan dan penulisannya pun ada caranya masing-masing.

Menurut ahli linguistik Charless F Hockett ada setidaknya 4 syarat khusus yang menjadikan sistem komunikasi menjadi sebuah bahasa:

  • Keterpenggalan (discreteness) : artinya bahwa adanya aturan tentang unit tertentu, misalkan seperti bunyi atau kata yang dapat dikombinasikan untuk mengkomunikasikan hal baru. Seperti halnya ketika Anda sedang bermain lego yang dapat Anda susun membentuk benda baru.
  • Tata bahasa (grammar) : menyajikan sistem peraturan yang menuntun cara mengkombinasi unit tunggal.
  • Keproduktifan (productivity) : kemampuan penggunaan bahasa, sehingga dapat dibuat menjadi pesan yang jumlahnya hampir tak terbatas.
  • Sementara Pergeseran (displacement) : kemampuan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak ada di hadapan kita, misalnya seperti masa lalu, masa depan, atau hal-hal fiksi.

Lalu, apakah hewan berkomunikasi menujukkan syarat-syarat itu?

Bagaimana untuk interaksi kepiting-kepiting melambaikan capitnya satu sama lain untuk memberi tanda bahwa mereka dalam kondisi sehat dan siap untuk melakukan perkawinan? Untuk interaksi pada kepiting tersebut tentu jawabannya tidak. Mereka tidak mengkombinasikan sinyal atau tanda mereka dalam kreasi tertentu dan sinyal mereka tidak tersusun dalam urutan grammar. Mereka hanya menggambarkan keadaan terkini, seperti “aku sehat”.

Lebah madu melakukan tarian-tarian yang terlihat kompleks untuk memberitahukan lokasi sumber makanan beserta kualitasnya. Dalam hal ini lebah madu menunjukkan syarat pergeseran atau displacement. Lebah menggunakan gerakan, sudut, waktu, dan intensitas tarian kibasan tubuhnya untuk mendiskripsikan dimana letak sumber makanan dan jumlahnya. Namun, contoh inipun belum cukup untuk membuktikan bahwa hewan memiliki bahasa.

Lalu, bagaimana dengan simpanse bernama Washoe? Washoe adalah simpanse betina yang merupakan non-manusia pertama yang belajar berkomunikasi menggunakan Bahasa Isyarat Amerika (ASL) sebagai bagian dari percobaan penelitian tentang penguasaan bahasa hewan. Washoe menampilan keterpenggalan atau discreteness dengan mengkombinasikan tanda-tanda menjadi kalimat tersendiri. Pada awalnya, penelitian ini untuk mengajarkan simpanse bahasa vokal yang nyatanya harus gagal karena simpanse secara fisik tidak dapat menghasilkan suara yang diperlukan bahasa lisan. Dalam proses mempelajari ASL, Washoe telah mempelajari 350 kata bahasa isyarat. Meskipun demikian, itu belum memenuhi syarat yang cukup untuk dapat digolongkan simpanse dapat berbahasa layaknya manusia karena hanya memenuhi satu dari 4 syarat lainnya.

Jadi apakah bahasa hanya identik dengan manusia? Sejauh ini jawabannya adalah iya. Hal itu dapat terbantahkan apabila jika ada satu saja hewan yang dapat berbahasa manusia. Di seluruh dunia, kita hanya akan mendengar suara mengeong dari kucing dan suara menggonggong dari anjing. Dan suara mengeong kucing di Amerika akan sama dengan suara kucing di Indonesia. Begitupun dengan anjing, suara menggonggong anjing akan sama dimanapun anjing itu berada. Karena pada dasarnya, hewan tidak dapat berbahasa manusia dan hewan tidak dapat berujar bahasa hewan lainnya.

Bahasa manusia mampu berdiri sendiri bergantung pada kekuatan kombinasi grammar dan pembuatannya, diatas kekhasan dan perpindahan. Otak manusia dapat mengolah unsur kata atau suara dengan jumlah terbatas dan mampu menciptakan pesan-pesan tak terbatas jumlahnya. Kita dapat menggunakan bahasa untuk berkomunikasi tentang apapun, membuat kalimat dan memahaminya, serta dengan sangat baik pula memahami kata yang kita mungkin belum pernah membicarakan sebelumnya.

Baca artikel menarik lainnya disini !

Salam baca Brainy!